CERITA BOLA DI 5 PIALA DUNIA

11 07 2010

Beberapa saat lagi, pesta sejagad sepakbola mencapai puncak. Dengungan Vuvuzela yang terkadang mengganggu tak akan terdengar lagi. Rutinitas bangun dini hari demi menyaksikan tim-tim terbaik dari segenap negara pilihan lenyap dan kembali pada denyut kehidupan normal. Irama gembira alunan nada yang membaur dengan deretan lirik unik lagu Waka Waka (This Time for Africa) berangsur surut ditelan roda waktu.

Bagi saya, hanya ada tiga lagu utama Piala Dunia yang gaungnya tetap terasa dalam hati. Teranyar tentu tembang suguhan Shakira lengkap dengan goyangan mautnya tahun 2010 ini. Kedua, lagu milik Ricky Martin di 1998 bertajuk The Cup of Life (Ole, ole, ole) bernuansa bahagia, dan satu lagi berjudul –kalau tidak salah– To be Number One (in Blue Italian Sky) pada Piala Dunia 1990 lampau.

Bahkan lagu yang penyanyinya saja tidak dikenal itulah sentuhan pertama saya dengan ajang akbar ini. Pada tengah tahun di ujung awal era ’90-an, lagu itu kerap berkumandang mengiringi barisan tembang top lainnya, termasuk Black or White milik MJ, Step by Step dari NKOTB atau Yogyakarta karya KLA Project.

Abang saya yang berusia terpaut jauh dari saya tak henti-hentinya membicarakan kehebatan tim nasional Jerman, meratapi kekalahan dramatis Italia dari Argentina lewat drama adu penalti, dan aksi mengejutkan Kamerun beserta tarian ala Afrika seorang Roger Milla. Namun, ajang yang berakhir di Roma itu bukanlah Piala Dunia pertama saya.

USA ’94> Empat tahun berselang, Piala Dunia digelar di negara yang tidak akrab dengan sepakbola, Amerika Serikat. Dengan logo bercorak patriotik khas negeri paman Sam, gelaran tersebut seolah menghipnotis saya yang masih bocah untuk terus menatap layar TV.

Candu mengoleksi foto-foto pesepakbola lewat stiker Panini juga mewarnai keseharian, meski tidak pernah komplet terisi. Nampaknya itu cara ampuh  konsumerisme memanjakan fantasi anak-anak dan tentu menguras kantong orangtua, sebab sampai sekarang buku stiker sejenis tetap beredar di toko-toko.

Karena jam tayang siaran yang terlalu larut dan terbentur jadwal sekolah, tidak semua pertandingan sukses ditonton tetapi beberapa pertandingan legendaris masih terpatri. Pun berita tragis soal bek Kolombia bernama Escobar yang diberondong peluru, masih tergambar jelas. Pemain Kolombia naas itu dibantai beberapa hari setelah ia menceploskan gol bunuh diri saat melawan Amerika Serikat, tim tuan rumah yang sebetulnya tidak diunggulkan.

Kejutan demi kejutan muncul di luar prediksi pada USA’94. Romania di bawah komando Georghe Hagi (Maradona asal Balkan) sukses menumbangkan Argentina 3-2 yang tanpa Diego Maradona akibat kasus doping. Di babak perempat final, juara bertahan Jerman hancur 1-2 dari Bulgaria dengan bintangnya Hristo Stoichkov dan Swedia sebagai wakil Skandinavia mencapai semifinal.

Lewat Piala Dunia itu pula untuk kali pertama saya merasakan sakitnya jadi pihak yang kalah. Ada dua tim yang saya jagokan, Romania karena kebetulan saya lahir di negara eks-komunis itu dan Italia berkat seragam biru-nya dan barisan pemain yang memesona. Kedua tim itu tumbang lewat cara serupa, adu penalti. Romania ditundukkan Swedia di perempatfinal dan Italia “menangis” karena dikalahkan tim samba Brazil pada partai puncak.

Hingga kini saya tidak percaya jika seorang penggemar sepakbola murni (bukan dadakan saat Piala Dunia saja) tidak berpihak pada salah satu tim yang sedang bertanding. Sepakbola adalah soal rasa dan keberpihakan, tak ada sikap netral.

FRANCE’98> Sepakbola kembali ke benua Eropa. Seiring perjalanan waktu dan pengetahuan yang bertambah soal sejarah dan sepakbola, Italia tetap menjadi favorit dan tentu saya membela tim manapun yang melawan Brazil. Pendendam? Mungkin saja. Yang jelas saya senang mendukung tim yang tidak difavoritkan banyak orang. Beragam kejutan juga hadir dalam pentas di negeri Mode itu.

Di fase penyihan grup, yang paling saya ingat ketika Romania sukses mengalahkan Inggris, 2-1. Usai laga itu, seluruh pemain pasukan “Dracula” mencat rambut mereka dengan warna kuning (warna kebanggaan negara itu).

Drama lain yang sulit hilang dari memori, saat Argentina bersua menghadapi Inggris. Satu gol ajaib dari Michael Owen langsung dijawab kontan oleh Javier Zanetti. Laga berkesudahan 2-2. Perseteruan David Beckham yang dikerjai “akting kelas wahid” seorang Diego Simeone menjadi cerita tersendiri. Akhirnya kepedihan melanda pendukung Three Lions karena tunduk lewat adu penalti. Partai lain yang memuaskan terjadi di perempatfinal, kala Kroasia meluluhlantakkan Jerman dengan pasukan tuanya, 3-0.

Pencapaian paling fenomenal memang digapai Hrvatska alias Kroasia dengan bintangnya Zvonimir Boban, Alen Boksic dan Davor “Super” Suker yang meraih sepatu emas di akhir turnamen. Momen paling membahagiakan yaitu saat tuan rumah Prancis beradu dengan Brazil. Sekali lagi, tim samba mencapai partai puncak tapi dengan kenyataan berbeda. Dua gol maestro Zinedine Zidane dan satu dari Emmanuel Petit menghancurkan Brazil. Skor akhir: 3-0. Hampir seluruh TV di Eropa menayangkan kejayaan Les Bleus selama seminggu penuh. Saya tertawa puas.

JAPAN-KOREA 2002> Piala Dunia hadir di tanah Asia. Partai pembuka langsung menghadirkan kejutan, seluruh dunia rasanya terperangah ketika juara bertahan Prancis ditumbangkan negara bekas jajahannya, Senegal. Saya masih ingat tajuk utama Kompas yang memuat foto dramatis kekalahan pasukan Les Bleus itu. Ketika tim negara biasa menaklukkan raksasa. Pasukan-pasukan unggulan satu demi satu berguguran. Prancis dan Argentina tidak lolos dari fase grup, Italia dan Spanyol dikejutkan kekuatan tuan rumah Korea Selatan di babak gugur. Tim kuda hitam Turki mampu berbicara banyak di pentas dunia.

Pada turnamen kala itu, saya lebih senang melihat sepak terjang tim-tim kejutan semacam Senegal, Jepang, Korea Selatan dan Turki. Dua timnas terakhir bahkan mencapai babak semifinal, sebelum disingkirkan tim-tim besar tradisional, Jerman dan Brazil. Berbagai gaya rambut unik menjadi suguhan tersendiri pada Piala Dunia yang untuk pertama kali digelar di dua negara. Tentu mohawk ala Beckham paling banyak jadi perbincangan, tapi menilik kembali ke tahun itu masih ada Umit Davala (Turki), Ronaldinho (Brazil) dan Hidetoshi Nakata (Jepang).

Kedigdayaan tim samba kembali mengantar mereka hingga partai pamungkas dan kehebatan Ronaldo berambut plontos-kuncung pantas diakui sehingga Brazil layak menjadi yang terbaik, setelah menuntaskan perlawanan Jerman, 2-0.

Oops…kepanjangan. Jika masih rela, silakan lanjut di bacaan selanjutnya…

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: