Write is feel…Feeling write

19 07 2010

Dear you (writer, and the one who likes to spill your heart out through words),

“In all unimportant matters, style, not sincerity, is the essential” ~Oscar Wilde

Ever since I was young, writing is the best way to transfer the energy of sorrow and joy. Either on paper, napkin, notebook, or save it in the cell-phone. Back then, I adore the writing style of Hemingway, Pramoedya, Charles Dickens, or Hermann Hesse. Their works of word-art were and still are amazing, but as time goes by I need to find my own identity. The way to send my thoughts.

Most of the time, it took me around 2-3 hours to finish one article (including this new Post or what I say as die Neue Poste). Swinging from one sentence to another in order to form a good paragraph, is like finding the correct recipe to make a tasteful bowl of spaghetti (pardon my absurd analogy).

I don’t really have journalistic theories stuck in my head and don’t even know of how a good article should be. Ideas swim across my mind and I’ll try to transform them into a troop of words. Music is a great comrade to stimulate my thoughts, but sometimes a complete Silenzio (Silence) is exactly what I needed to express the inner feelings.

Because for me, to write is to feel and how I can spread the news (from my point of view) to a reader, anywhere he or she is. Doesn’t really matter how many minutes you spend or where to find pile of words… Maybe on the bed, in the bathroom or while you’re eating or singing or driving. When it cling right, it just fit in. That’s the greatness of bonding words into sentences. That is why: When writing becomes obligatory, the fun side is fading out.

I realized gramatically speaking, the title above is wrong. But then again, writing is to feel…and I felt that title just soothe me well and “rings” goooood.

Pick the style and taste to tell a story through your own choice of words. And that is all !!!





CERITA BOLA DI 5 PIALA DUNIA (lanjutan)

11 07 2010

GERMANY2006> Setelah tahun 1974, pentas terakbar sepakbola kembali digelar di Jerman, berkat usaha der Kaizer Franz Beckenbauer. Segelintir wajah baru menghuni setiap fase grup, bahkan negara kecil Trinitad & Tobago sukses hadir di sana. Australia yang waktu itu belum hijrah ke zona Asia juga cukup hebat prestasinya. Begitu pula dengan Ukraina sebagai tim debutan yang berhasil menembus babak perempatfinal.

Drama banyak terjadi di babak gugur WeltMeister Deutschland 2006. Mulai dari penalti kontroversial Francesco Totti, keributan antarpemain Jerman dan Argentina setelah adu penalti, tumbangnya Brazil lagi-lagi di tangan Prancis dan insiden antara Wayne Rooney versus Cristiano Ronaldo.

Namun, tak ada yang lebih hebat daripada drama yang terjadi di partai puncak, Olympia Stadion Berlin, Juli 2006. Aktor utama: Zinedine Zidane dan Marco Materazzi. Keduanya merupakan pencetak gol bagi masing-masing negara. Dua manusia ini pula yang mewarnai laga final dengan perseteruan yang berakhir dengan insiden “tandukan Zidane”.

Akhirnya setelah menunggu sekian lama, sepanjang hidup berhasil juga saya menyaksikan kejayaan Italia. Walaupun harus ditentukan lewat cara yang tidak saya sukai, adu penalti. Monsieur Zizou akan selalu dikenang sebagai pemain besar dan memang begitulah seharusnya seorang maestro sepakbola, ada masa sukses ada masa hancur, bagaikan kehidupan.

Sementara lewat caranya, Italia berhasil menjungkirbalikkan semua prediksi kala itu. Dengan sedikit keberuntungan (kata Fortuna berasal dari bahasa mereka), Gli Azzurri merengkuh gelar dunia untuk ke-empat kalinya. Empat tahun lalu di kisaran tanggal yang sama, saya tak peduli meski esok harinya terlambat masuk kerja serta harus berlari mengejar bis kota. Yang utama: Italia juara !

SOUTH AFRICA2010>

Tepat bila dikatakan setiap Piala Dunia selalu menghadirkan kejutan. Tak terkecuali pada gelaran kali ini. Spanyol tumbang oleh Swiss, Prancis rontok di fase penyisihan, Jerman sempat ditaklukkan Serbia dengan skor tipis 1-0, dan juara bertahan Italia terbenam di dasar klasemen usai dihempaskan Slovakia.

Setiap pesta empat tahunan ini digelar, hadir pula prestasi tim-tim tak terduga. Ada Swedia, Bulgaria dan Romania di USA’94. Kroasia menjadi kekuatan baru Eropa Timur di France’98. Korea Selatan, Turki dan Senegal adalah wujud tim eksplosif di Japan-Korea 2002. Pada Germany 2006, Portugal dan Ukraina merangsek ke jajaran elite tim besar dunia. Kiprah Ghana dan Uruguay bisa disebut fenomenal untuk pentas di Afrika 2010. Entah kapan lagi tim-tim “selingan” Piala Dunia ini akan kembali berlaga, tapi kisah heroik negara-negara semenjana itu sudah tertoreh dalam lembar sejarah, tak akan luntur ditelan zaman.

Sejarah pasti tercipta. Juara Dunia yang benar-benar baru lahir di tanah Afrika. Entah warna Oranye atau Merah Menyala yang akan bergelora di Soccer City Stadium, Johannesburg. Pada satu sisi bakal ada yang bersorak gembira sementara di ujung yang lain derai air mata niscaya menetes.

Bukti untuk mensahihkan selintas keyakinan yang menaungi pikiran saya selama ini. Hanya ada 3 kata untuk menggambarkan jagad si kulit bulat:

Sepakbola Memang Gila !!!





CERITA BOLA DI 5 PIALA DUNIA

11 07 2010

Beberapa saat lagi, pesta sejagad sepakbola mencapai puncak. Dengungan Vuvuzela yang terkadang mengganggu tak akan terdengar lagi. Rutinitas bangun dini hari demi menyaksikan tim-tim terbaik dari segenap negara pilihan lenyap dan kembali pada denyut kehidupan normal. Irama gembira alunan nada yang membaur dengan deretan lirik unik lagu Waka Waka (This Time for Africa) berangsur surut ditelan roda waktu. Read the rest of this entry »





Waka waka…let’s communicate!

2 07 2010

This is my first attempt to contact the world around me…bye for now !